Iklan adalah sebuah konsep yang sudah tidak lagi asing bagi masyarakat, Ada berbagai ciri-ciri bahasa iklan yang membuat iklan begitu berbeda jika dibandingkan dengan penggunaan bahasa untuk kepentingan lain, seperti percakapan dan pendidikan. Dan inilah yang membuat keberadaan iklan begitu mudah diterima di tengah-tengah aktivitas masyarakat.

Pengertian Iklan

Istilah iklan atau advertising sendiri berakar dari bahasa Yunani yang berarti menggiring orang pada suatu gagasan. Sementara pengertiannya secara menyeluruh merupakan segala bentuk aktivitas untuk mempromosikan dan menghadirkan barang, ide, atau jasa bukan secara pribadi dan dibiayai oleh spnsor tertentu. Wujud dari iklan sendiri merupakan sebuah informasi nonpribadi yang disajikan mengenai suatu merek, perusahaan, produk, maupun toko yang tersedia dengan kompensasi dalam nominal tertentu. Maka, dapat disimpulkan bahwa iklan adalah sebuah proses komunikasi yang tujuannya adalah untuk membujuk serta menggiring orang untuk melakukan tindakan yang memberikan keuntungan bagi si pembuat iklan.


Photo by Mona Eendra / Unsplash

Bahasa Iklan dan Ciri-Cirinya

Menarik adalah salah satu karakteristik iklan. Dan sifat ini dapat dipenuhi dengan penggunaan bahasa yang dapat memancing respon atau tanggapan dari audiensnya. Dalam mempromosikan diri, sebuah entitas, merek, atau produk harus mampu menempatkan citranya agar dapat masuk ke dalam benak atau pikiran konsumen. Selain itu, ada beberapa atribut yang harus disorot di dalam konten iklan, seperti harga, kategori produk, kualitas, dan persepsi orang yang melihatnya (dari sisi perspektif kesan pertama dari orang yang melihat iklan tersebut). Karena itulah bahasa yang digunakan di dalam konten iklan wajib memiliki kemampuan untuk menarik, menggugah, mengidentifikasi, memberikan perasaan kebersamaan, serta mengomunikasikan pesan kepada masyarakat secara kooperatif. Dan untuk memenuhi kemampuan tersebut, bahasa iklan memiliki ciri-ciri sebagai berikut di dalam struktur kata serta penulisannya :

  1. Menggugah.
    Bahasa yang digunakan harus mampu mencermati apa kebutuhan konsumennya, memberikan solusi bagi konsumennya, serta memberikan perhatian bagi konsumennya.
  2. Informatif.
    Kata-kata yang digunakan di dalam konten iklan harus jelas, komunikatif, bersahabat, dan tidak boleh bertele-tele. Sebab ada durasi penayangan yang harus dipenuhi dan tidak boleh diabaikan oleh pembuat iklan.
  3. Persuasif atau membujuk.
    Rangkaian kalimat yang digunakan di dalam bahasa iklan harus mampu membuat audiens yang ditargetkan merasa senang, terhibur, dan nyaman.
  4. Bertenaga gerak.
    Maksudnya adalah bahwa bahasa yang dipergunakan di dalam iklan harus memiliki komposisi kata-kata yang mampu memaksimalkan waktu selama masa promosi atau penawaran masih berlangsung.
  5. Komunisuasif (komunikatif dan persuasif).
    Artinya, bahasa yang dipakai di dalam membuat konten iklan harus bersifat komunikatif dan persuasif.
  6. Efektif.
    Penyusunan kata-kata dan rangkaian kalimat di dalam konten iklan harus mampu menonjolkan atribut-atribut penting dari sebuah merek, produk, atau entitas yang diiklankan.
    Dalam menyampaikan sebuah gagasan pikiran di dalam suatu bahasa, penulis iklan haruslah mampu mengetahui apa aturan-aturan yang berlaku. Misalnya adalah tata bahasa, idiom yang digunakan di masyarakat, kaidah bahasa, konotasi atau nuansa dari sebuah kata, dan sebagainya. Ini adalah sebuah syarat yang mutlak alias wajib dipenuhi.

Bahasa iklan yang dipergunakan juga berbeda jika media iklan yang digunakan pun berbeda. Misalnya, jenis kata dan gaya bahasa untuk iklan surat kabar akan berbeda jika dibandingkan dengan iklan yang didesain untuk disiarkan di radio atau ditayangkan di televisi. Sebab, iklan untuk surat kabar akan menonjolkan indera penglihatan dan dapat diamati dalam waktu lama. Sementara itu, iklan radio akan mengutamakan indera pendengaran dan iklan televisi akan mengutamakan gabungan antara indera penglihatan dengan indera pendengaran. Apalagi, baik iklan radio maupun iklan televisi memiliki durasi yang terbatas sehingga tidak dapat disimak dalam waktu lama, apalagi terus-terusan.

Bahasa yang digunakan di dalam iklan juga harus mampu mengarahkan audiens yang menjadi target untuk membeli, menggunakan, atau bahkan beralih ke produk atau merek yang diiklankan. Jelas saja, pengiklan juga harus memperhatikan apakah produk yang diiklankan merupakan produk baru atau produk lama. Sebab, hal ini akan sangat memengaruhi jenis serta gaya bahasa yang digunakan. Pun halnya dengan audiens yang menjadi target merek atau produk tersebut.

Jenis-Jenis dan Pedoman Kebahasaan

Terkait dengan aspek kebahasaan, rupanya ada dua jenis bahasa yang pengiklan juga harus bedakan. Kedua jenis bahasa tersebut merupakan bahasa normatif dan bahasa deskriptif. Kemudian, kedua jenis tersebut juga masih memiliki bermacam laras bahasa komunikasi yang harus diperhatikan pula. Misalnya adalah :

  • Laras jurnalistik.
  • Laras pesan singkat atau SMS yang penuh dengan singkatan, seperti baper (bawa perasaan) dan BRB (be right back atau akronim yang digunakan oleh pemberi pesan bahwa ia akan segera kembali untuk membalas pesan).
  • Laras iklan, seperti “Aku dan Kau suka Dancow”.
  • Serta laras prokem dan gaul, seperti bokap, nyokap, dan dugem.

Selain laras bahasa yang harus mendapatkan perhatian, ada pula pedoman kebahasaan yang dipergunakan untuk bahasa iklan. Misalnya:

  • Mudah dipahami oleh konsumen.
  • Bahasa yang digunakan sederhana dan diutarakan dengan jernih, tidak bertele-tele.
  • Tanpa menggunakan kalimat majemuk.
  • Kalimat aktif dan bukan kalimat pasif.
  • Bahasa yang digunakan padat dan kuat.
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa positif, bukan bahasa negatif.

Penulisan Konten Iklan

Dalam menulis sebuah naskah untuk iklan, menguasai tata bahasa yang benar adalah sebuah kewajiban. Dan untuk iklan dalam bahasa Indonesia, pembuat iklan harus menguasai Ejaan yang Disempurnakan atau EYD. Tujuannya adalah agar makna di dalam iklan dapat ditangkap oleh audiens yang menjadi target iklan.
Sebab, bahasa haruslah menyimpan sebuah makna ketika digunakan untuk mengungkapkan sebuah ide atau gagasan kepada orang lain. Sehingga, si penerima pesan tersebut dapat memahami apa yang sedang kita ungkapkan. Bahasa yang informatif harus mampu menjelaskan 5W+1H secara singkat dan jelas. Tentunya, bahasa tersebut juga harus disesuaikan dengan apa yang akan diiklankan.


Photo by Aaron Burden / Unsplash

Prinsip-Prinsip Bahasa Iklan

Pada dasarnya, bahasa iklan memiliki beberapa prinsip yang wajib dipenuhi. Yaitu:

  1. Iklan memiliki isi yang merupakan sebuah pernyataan yang jujur, bertanggungjawab, serta tidak bertentangan dengan aturan atau hukum yang berlaku di masyarakat tempat iklan tersebut akan disiarkan.
  2. Iklan memiliki isi yang merupakan sebuah pernyataan yang disusun bukan untuk menyinggung perasaan maupun merendahkan martabat sebuah negara, susila, agama, adat dan budaya, suku, maupun golongan.
  3. Iklan memiliki isi yang merupakan sebuah pernyataan yang disusun dengan asas persaingan yang sehat.

Apabila Anda sedang mencari rekan untuk mengiklankan merek, perusahaan, atau produk, Arfadia adalah pilihan yang tepat. Terutama untuk iklan digital. Arfadia sudah berpengalaman di dunia pemasaran digital selama lebih dari delapan tahun dan melayani berbagai klien, termasuk klien besar seperti perusahaan nasional dan kementerian. Maka, Anda sudah tidak perlu lagi meragukan reputasi serta kualitasnya. Dengan jargon “Spark Creativity and Innovative Solutions”, Arfadia menjamin layanan pemasaran digital secara penuh, mulai dari pemasaran marketing, branding, dan iklan video.